Ini dua buah lirik lagu yang saya ambil dari album Marjinal, sebuah band indie dari Jakarta. Saya mengutip lagu-lagu band ini dan menampilkannya di sini bukan karena saya ada hubungan dengan band ini (im not the manager of this band or even a fans of this group). Basically, saya bukan penikmat musik punk (aliran band ini) secara khusus. Dari foto saya yang ada di blog tentunya pembaca tahu aliran musik yang saya sukai. Tapi saya menyukai band ini sebab lagu-lagu mereka sangat tegas dan lugas untuk menyampaikan maksudnya (tak usah terlalu puitis seperti kebanyakan orang).

Ketika mendengarkan lagu-lagu dari band ini untuk pertama kalinya di Flameable Distro (Distronya Dede Flame – Elektro 98) saya langsung merenung sebab banyak hal yang berlangsung di sekitar kita yang tidak kita sadari. Mungkin karena band ini berasal dari Jakarta — yang notabene merupakan kota yang membutuhkan perjuangan ekstra keras untuk hidup di dalamnya – sehingga mereka mampu menangkap realita hidup yang terjadi dan menuangkannya ke dalam lagu-lagu mereka.

So, tanpa banyak bicara lagi. I hope you enjoy it!

Horified Country

Originally written by Marjinal

lihatlah negeri kita
yang subur dan kaya raya
sawah ladang terhampar luas
samudera biru

tapi lihatlah negeri kita
yang tinggal hanyalah cerita
cerita dan cerita, terus cerita…
(cerita terus…)

pengangguran merebak luas
kemiskinan merajalela
pedagang kaki lima tergusur teraniaya

bocah-bocah kecil merintih
menghabiskan waktu di jalanan
buruh kerap dihadapi penderitaan

inilah negeri kita
alamnya kelam tiada berbintang
dari derita dan derita menderita…
(derita terus…)

sampai kapankah derita ini
yang kaya darah dan air mata
yang senantiasa mewarnai bumi pertiwi
dinodai, dikangkangi, dikuasai, dijajah para penguasa rakus


Hospital-House of Pain Indeed!

Originally written by Marjinal

inilah yang terjadi korupsi dan kolusi
tuk memperkaya diri itu sudah tradisi

lihatlah di rumah sakit orientasinya duit
banyak pasien yang menjerit karena biaya mencekik

ngomong soal profesi uang yang diutamakan
janjinya kemanusiaan tapi hanya janji doang

kemanusiaan tidak dipikirkan
bila kau punya uang barulah lain urusan

kemanusiaan tidak dipikirkan
rumah sakit bayar dulu uang yang diutamakan

ternyata sumpah dan janji serta kata-kata hanyalah basa-basi
kau khianati negeri ini atas nama profesi

ooo… ini yang terjadi
ternyata banyak penjahat berpakaian rapi
ooo… ini yang terjadi
ternyata banyak penjahat di negeri sendiri

di rumah-rumah sakit birokrasinya berbelit
apalagi tak berduit kau pastikan dipersulit

persetan orang tak punya harga obat dimainkan
orang sakit diobyekkan semuanya pake bayaran

di rumah-rumah sakit banyak pasien menjerit
karena biaya mencekik lantaran ga punya duit

di rumah-rumah sakit banyak pasien menjerit
lantaran dipersulit dan dokternya pada singit

di rumah-rumah sakit, BRENGSEK!!!
di rumah-rumah sakit, NGEHE!!!

Well, saya ga akan kasih komentar di sini. Yang jelas saya lebih berharap komentar berasal dari pembaca sekalian. Semua sah-sah saja, asalkan atas pemikiran sendiri, dan dapat dipertanggungjawabkan. Btw, there is another songs of this band which i couldn’t add here. Itu semua karena keterbatasan telinga, soalnya lagu-lagu yang saya muat di sini saya ketik lirik lagunya berdasarkan lagu yang saya dengar dari mp3. Original cd-nya udah ilang, kata yang punya. So, be patient. Kalau ada waktu akan saya post lagi di blog. Atau buat rekan-rekan lain yang punya koleksi lebih lengkap, please send it to my e-mail.

NB : Band ini akan manggung di GrAnaT tanggal 31 Maret. Info lengkapnya di sekber FT.


  • Share/Bookmark

5 Responses to “Marjinal Songs.”

  1. Fajar says:

    Wah…menarik banget…
    Mungkin personel band ini pernah punya pengalaman yang sama kayak yang aku alami 3 tahun lalu.. KENA MALPRAKTEK dari ujung rambut ampe ujung kaki…
    Tapi, mau gimana lagi…tanpa uang dan koneksi jangan harap dapet pelayanan yang manis dari rumah sakit bahkan walaupun kita punya uang dan bayar mahal tetep aja pelayanannya memuakkan(berdasarkan pengalaman pribadi)..
    Jika pengen hal ini gak terjadi, satu2nya jalan adalah bahwa kita sendiri harus kritis dan jeli… (tapi kayaknya sulit deh, habis pendidikan di Indonesia kan mahal!!!)
    Aku setuju banget sama lagu ini, tapi dengan cara apapun kita menyuarakan, walaupun sampai menagis darah, klo yang disurah denger dan yg harus denger semuanya kuping tembok ya gak bakalan kesampaian…
    Tapi klo tembok itu didobrak oleh kekuatan yang besar(tindakan yang tulus dari semua komponen bangsa ini) mudah2an suatu saat akan roboh…

    [Reply]

  2. Oka Suarjana says:

    TOLAK RUU APP!! Berfikirlah yang seluas-luasnya, hormati keragaman suku dan agama. Bhineka Tunggal Ika menjadi panutan dalam berbangsa dan bertanah air. Beribu-ribu pulau, bermacam etnis, suku dan budaya merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Bermacam-macam hasil karya yang memiliki nilai seni yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Maka dari itu “Jangan Pandang atau menilai Sesuatu dengan Nafsu belaka” MARI KITA TOLAK RENCANA UNDANG-UNDANG PORNOGRAPI!!!!

    [Reply]

  3. yadi haw haw says:

    tolak angin kali, gw setuju UU pornograpi di syahkan
    inget pasal 1 pancasila ketuhanan yang maha esa,
    telanjang bulat seni tapi kebanyakan mudaratnya
    bro

    [Reply]

  4. anand_rockavanka says:

    thank`s udah mau coment tentang lagu ini… sesungguhnya masih banyak lagi suara hati para musisi bawah tanah yg perlu diketahui oleh masyarakat!! dont look at me from one side!!! karena tidak sdikit masyarakat yang menganggap mereka hanya sbagai sampah… tapi justru suara mereka adalah jeritan hati rakyat yg sebenarnya…….. keep figh n`never surrender!!!!

    [Reply]

  5. pandlowi says:

    I like ur style N UR SONG
    TOP ABIS!!!

    [Reply]

Leave a Reply

(required)

(required)

© 2010 IMS' Blog Suffusion WordPress theme by Sayontan Sinha