Setelah membaca blog seorang kawan (punapi gatra Gung Wie?), saya terusik juga dengan bahasan ini. Sedikit cerita, saya tertarik karena kawan saya ini hanya menyinggung sedikit saja, tapi komentar-komentar di postingan itu panjang-panjang! Hehehe… hal ini membuat saya jadi berpikir, bahwa topik ini memang banyak dibicarakan.
Kasta, yang saya sempitkan lagi dalam implementasinya di Bali, memang menarik untuk dibicarakan. Jangan salah lho! Di zaman yang segalanya serba 3G begini, masih saja ada orang yang rewel masalah kasta.
Hmm… contoh paling simpel terjadi bahkan di sekitar saya! Biasa lah… kalau bergaul dengan teman-teman, dalam obrolan saya pukul rata saja dengan menyebut dia “ci” (Kamu), dan saya sebagai “cang” (aku) tidak peduli apa pun kastanya! Hey man! The conversation is in my room, so what is your problem with that? Hahaha… Dan tahukan anda? yang paling sewot saya berlaku begitu, adalah ibu saya! Ibu saya selalu sewot, kalau saya bilang “cang” “ci” tadi sama semua teman-teman saya. Karena ibu saya cukup tahu beberapa kawan saya yang ada title di namanya sejak lahir (hehehe… saya juga ada, tapi kata orang-orang levelnya lebih rendah)!
Dan inilah pembelaan saya pada ibu saya yang sangat saya cintai, “Ibu memiliki jaman sendiri ketika ibu hidup, saya juga memiliki jaman saya sendiri. Saya sekolah! Saya belajar! Saya memiliki nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang saya yakini sesuai dengan yang saya pelajari. Saya menghormati apa yang ibu yakini sebagai suatu tradisi dari jaman ibu, tapi ibu pun harus menghormati apa yang saya yakini di jaman saya ini”. Tentunya dengan gaya yang agak sok cool. Hehehe… Yeap, kurang lebih gitu sih terjemahan Bahasa Indonesianya!
Pernah suatu ketika upacara ngaben nenek saya di rumah, datang Ida Bagus darimana gitu, yang akan menyertai bade - apa sih istilahnya? – (biasanya di pinggir bade sambil megang bulu merak – bener ga sih? hehehe… kalo salah mohon kasi tau). Waktu itu kakek saya duduk di bawah, sang Ida Bagus duduk di atas (di sofa)! Hmm… bukan apa-apa sih! Saya cuman agak risih melihat kakek saya seperti itu! Saya tidak bisa membayangkan kalau saya berada di posisi seperti itu! Tapi hal itu saya maklumi. Kejadian itu cukup saya pandang sebagai sebuah nilai yang diyakini benar oleh kakek saya, bukan sebagai sesuatu yang harus ikut saya yakini hanya karena kakek saya meyakini hal tersebut.
Maaf saja, bukan bermaksud kurang ajar tetapi saya tidak akan mau memperlakukan orang lain yang tidak saya kenal sampai sebegitunya! I’m sory, but, do I know you? hahaha… mungkin itu deh yang bakalan saya bilang pada beliau! Yah, dalam prakteknya tentunya saya tidak sekurangajar itu. Dalam beberapa kasus, saya malah tidak pernah ber-cang-ci ria dengan beberapa kawan saya, bukan karena kastanya, tetapi lebih karena saya segan dengan mereka. Bisa jadi lebih tua, atau mungkin karena sikap perilaku dan pandangannya yang membuat saya menjadi segan.
Memang sudah banyak para ahli dan tokoh masyarakat Bali yang mengemukakan bahwa implementasi kasta adalah sebuah kesalahan interpretasi. Bisa dibilang begitu lah kira-kira! Ini mungkin bisa jadi salah satu referensi kalau mau tahu! Dan beberapa orang dari kalangan konservatif menambah kesalahpahaman itu dengan menjaga kefanatikan mereka, misalkan dengan tetap berusaha menjaga kemurnian kasta mereka sampai ke anak cucu dengan melarang anak-anaknya menikah dengan orang yang kasta nya lebih rendah. Eh… jangan salah! Walaupun semua udah serba digital, masih ada lho yang kayak gini! Banyak malah!
Menurut saya, setiap manusia dinilai berdasarkan atas tingkah lakunya! Atas apa yang ia perbuat bagi orang-orang di sekitarnya. Saya paling benci, jika seseorang men-judge manusia berdasarkan kelahirannya. Tidak hanya sebatas kasta, ini juga menyangkut agama, ras, suku, dan sebagainya! Kita tidak pernah bisa memilih sebagai apa kita lahir, tapi kita bisa memilih sebagai siapa kita nantinya kita akan dikenang setelah kita mati! Kurang lebih begitu!
Namun satu hal! Saya tentu bukan orang yang kurang ajar dan tidak tahu adat istiadat. Hanya masalah bagaimana kita menempatkannya! Kalau ke Griya, Jero, Puri, trus di situ bilang “cang” “ci” sama yang punya puri, ya jangan salahkan mereka bawa golok keluar! Hehehe… Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Kamar saya punya aturan sendiri, puri, jero, dan griya pun punya aturan!
Saya menghormati kasta sebagai sebuah tradisi nenek moyang saya. Sebagai sebuah kebudayaan yang harus mungkin harus dilestarikan! Namun budaya pun punya caranya sendiri untuk berevolusi. Dan evolusi itu ditentukan oleh orang-orang yang menjalankan kebudayaan itu. Dan inilah pemikiran saya, pandangan saya terhadap kasta itu sendiri.
Jadi jangan harap, ketika saya bertemu dengan anda di jalan ketika kasta anda lebih tinggi dari saya, saya akan membungkuk hormat pada Anda! Paling-paling jika anda meminta saya begitu, saya akan bilang “Who the f**k are you?”, ke anda. Hehehe… secara saya kan ga kenal sama anda! Dan jika anda menunjukkan sikap yang simpatik, saling menghormati, bahkan intelek, tanpa diminta pun saya akan bersikap yang semestinya tanpa perlu tahu apa kasta anda. Saya kira anda pun pasti akan begitu?! Iya kan?
Oya… saya juga tidak akan mengajak anda-anda yang baca postingan ini untuk menghapuskan kasta itu! Just like I said, dia punya ruang nya sendiri untuk tetap kita jaga! Melestarikan, bukan berarti harus tunduk sama kesalahpahamannya kan? Jadi intinya anda punya pandangan sendiri, begitu pula saya! hehehe…
Hmm… Saya tidak bermaksud mendiskreditkan golongan mana pun! Jadi mohon maklumilah pemikiran saya.
Update 23 February 2009:
Beberapa kalimat disesuaikan agar tidak menimbulkan ketersinggungan.







aih.. becik bli..
hahaha..
do I know you?
jika saya nanti menikah, semoga suami saya mengijinkan diriku untuk tidak di”tegen” [digendong biasanya] dari natah [halaman] ke tempat upacara. karena yang negen masak oRang tua, sedangkan diriku ini masih seHat, masih bisa jalan.
hahahaha… bedaaaaaa jaman.. (keluarga besar biasanya yg ribet.. hihi)
Put ur aRms arOund me bradaaaaa…^^
[Reply]
Kita satu pikiran.. satu rasa..satu jalan.. hahahaha
[Reply]
Saya setuju klo manusia jangan dipandang dari kelahirannya. Masalah kasta juga identik dengan masalah rasial kan? Padahal kita lahir tidak bisa memilih untuk lahir di keluarga mana, di ras apa, atau di negara mana. Bukankah kita sudah membaya “bekal” kita masing2?
[Reply]
huah.. sampe kesini topiknya.
ah tp sy tdk akan bikin komen yg “panjang-panjang” itu loh wakakak.
take it easy bro, kamu terlihat sedikit berapi-api kali ini, dan (rasanya) aku mengerti.
jadi no problemo dong, enjoy ur rooms!=)
[Reply]
cang setuju!
absolutely 100% cang setuju ama pendapat ci untuk masalah ini bro~!
…
kasta ntu cuma warisan budaya,
paling kalo mo noleh ke belakang, historisnya kasta ntu ada karena pembagian pekerjaan dan profesi jaman dulu.
ya, jadi ga relevant kalo tetep musti dilanjutin di jaman sekarang!
…
eh ya,
ngomong-ngomong be payu daptar ci gas ne?
pidan ujian masuk?
[Reply]
woe pren…. baru ketemu neh yg namanya suryawan
mudah2an inget jak rage…
KASTA…..KASat maTA
itu aja bro…
[Reply]
dont judge the people by the language, gitu ya?
[Reply]
setuju dengan bli wira diatas….wuih…jangan keras2 jiwanya bli… kita di bali memang seerti itu dan akan tetap seperti itu namun kalau kita bisa dengan lebih bijak menyikapinya the show pasti go on dech…
*kalau di BBC ada kastanya ndak yah
[Reply]
Salam kenal ya bli….
nama saya gunk lanank….
Komentar saya : Menurut saya, walaupun namanya seperti saya ini (berkasta), teman-teman saya biasa manggil saya “ci”, tapi mereka tahu kapan saatnya ngomong begitu dan kapan saatnya ngomong halus.
Itu komen saya bli, dan mohon maaf jika ada kesalahan kata ataupun kalimat…
Terima kasih
[Reply]
Sante gen Cul !!
(santai aja kawan)
Jleme-jleme sok col to…
(manusia-manusia sok keren tuh)
wakakakak, sampe bikin 2 bahasa.
[Reply]
byuh!! nyakcak tulisane ci, wan.
ayo hajar terus. kini waktunya karya yg bicara, bukan kasta.
[Reply]
@ALL: thx…
@Gung Wie & Jer: halah! kok janjian di sini? hehehe…
@Dedy: agree!
@sindhu: alow bro! Nah kayang ne ortaina men!
@Dewa rama: maksudne?
@wira, ick, agoenk03:
yeap! seperti yang saya tulis, kita semua punya pandangan sendiri. Satu hal yang tidak saya setuju, adalah kata-kata kita memang seperti itu dan akan selalu begitu! Walah mahap sodara2… saya bukan tipe orang yang mau tunduk pada keadaan. Just like I said, dia punya tempatnya sendiri. Saya menghormati nya sebagai warisan tradisi leluhur, tetapi (ampura niki ring leluhur titiang sareng sami!) bukan berarti saya harus melaksanakannya seperti yang dilaksanakan leluhur saya! Gitu kan? Satu lagi, ini bukan hanya masalah kata-kata, tapi juga sikap dan tingkah laku! Itu berlaku untuk semua manusia, apa pun embel2 kelahirannya!
@Maonk: betul bro! hehehe… tambahan: kolot masi! hehehe..
@a!: apa artine tanda a! to bli?
[Reply]
Apalah arti sebuah nama….yang terpenting adalah swadarma dan fungsinya ia untuk hidup di dunia ini….(sok ajan e?!)itu hal yang kupegang saat ini..
Kacrita pidan nak ane ngelah gelar keto ngelah fungsi dan kedudukan di masyarakat…but you know lah engken egosentris mereka untuk menjaga eksklusivitas mereka…
titel AA’IG’Dewa’ emangne nu dadi raja?pangeran?patih? hal2 dalam pemerintahan kerajaan?
Titel IB’IA tidak semua yang bertitel itu bisa dadi peranda…peranda nak berat tugasne lho…ketika jadi peranda dan medwijati,ia tidak akan memiliki hubungan dengan siapapun…anaknya pun harus disebut sisia(murid) bukan oka(anak)…
Siapapun dia dengan titel apapun dia,tetap dikehidupan ini ia bisa menjadi apa saja…dari tukang sapu bahkan sampai pejabat,dari penjahat bahkan sampai pemangku
Tuhan menciptakan manusia itu sederajat…nyak engken ye di gumi,sing peduli kasta yen be begajulan walau meabenin gede misi nagabanda kek nak tetep gen kal menerima sesuai dengan karma ne di gumi…mekeloan di neraka ato sing hahahahahaha..
Kita jangan terperangkap lagi dalam hal lama yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman ini….semakin kita belajar maka kita akan semakin tau apa yang benar dan yang tidak…kembalilah pada pikiran logis.
Yang merasa tersinggung membaca ini,saya minta maaf..
inilah realita yang tidak logis yang masih ada di Bali
Aku ingin memandang semua temanku adalah sederajat..aku menghormati teman2ku karena mereka juga menghormatiku…menerima perbedaan masing2 dan berjalan harmonis bersama2….yang membedakan adalah pekerjaan dan fungsinya masing2 di masyarakat dan dunia ini.
Regards
Techlink
[Reply]
Asem, lom puas koment sekarang baut postingan sendiri.wakakaka.salute
Pemikiran yang patut diancungi 3 jempol (kelainan), saya sependapat KASTA di jaman sekarang ini tak lebih dari pada pelestarian budaya. Mengenai bagaimana cara pelestariannya, itu kembali individu masing-masing.
Suksma Sur.
[Reply]
Yen menurut yange sih. Kasta tetep masih perlu dijaga. Kale de bes-bes nganggo kasta anggon nyelekang martabat anak lianan. Nyak to agung kek, gusti kek. Masih medagang di peken, he..he.. nah keto malu. Dong agung to gusti adane. Pak mangku pastike jani dadi raja di bali sing agung adane dong
xixixixix… sing keto wan.
[Reply]
Mih..hebat nok bani nulis topik sesitip kene. Pasti kaum konserpatip ngopak-ngopak. Cang setuju gen bli.
Bahasa friendly kadang suka nabrak norma, tapi ya memang karena tujuannya friendly nothing important.
[Reply]
iyah, ribet bener yah… aku yo paling males kalo dah urusan beginian… apalagi kalo dah nyangkut2 mesti merid ma yg sekasta…
males yah
ga ada hubungan kali kelakuan ma kasta…
eh, malah nyolot
) sori bli… salam kenal yah…
[Reply]
Kasta membuat kita terkotak2 dan tidak relefan untk jaman sekarang, cukup untuk melestarikan budaya saja deh. Semua orang sama, butuh udara untuk hidup dan uang untk beli pulsa (apa hubungannya). trus mengapa kita harus merendahkan diri ke PADANYA, toh bukan dia yg ngasi kita makan.
“Aku Ramah Bukan Berarti Takut… Aku Tunduk Bukan Berarti Takut…”
[Reply]
Kasta membuat kita terkotak2 dan tidak relefan untk jaman sekarang, cukup untuk melestarikan budaya saja deh. Semua orang sama, butuh udara untuk hidup dan uang untk beli pulsa (apa hubungannya). trus mengapa kita harus merendahkan diri ke PADANYA, toh bukan dia yg ngasi kita makan.
“Aku Ramah Bukan Berarti Takut… Aku Tunduk Bukan Berarti Takluk…”
[Reply]
Hari gini masih ada kasta????? Di hadapan Tuhan tu sama kaleeee….. Emang klo mati bw kasta???? Cuapeeeekk Duehhhhhh……….
[Reply]