Apa sebenarnya yang kita cari di dunia ini? Kalau mengacu pada ajaran agama Hindu adalah kemakmuran di dunia (Jagadhita) dan bersatunya kembali kita kepada Pencipta kita (Moksa). Pertanyaan inilah yang menggelitik pikiran saya akhir-akhir ini.
Hmmm… Banyak hal yang penting yang sudah terjadi dalam hidup saya belakangan ini. Sekedar mengingat kembali, mungkin postingan ini pernah anda baca sebelumnya. Postingan itu sengaja saya tulis untuk mengingat bahwa pernah terjadi sebuah kejadian yang benar-benar membuat saya berpikir untuk melakukan restart pada diri dan kehidupan saya.
Seperti sebuah check point, hari itu seperti sebuah awal dari perenungan yang mungkin hanya sebagian kecilnya bisa saya tuliskan di sini.
Sebuah perenungan untuk menyadari betapa beruntungnya diri saya karena Tuhan menyertai saya di setiap langkah saya. Sebuah perenungan untuk menyadari betapa beruntungnya diri saya, mempunyai dua orangtua yang sangat memperhatikan dan mensupport anaknya (sementara mungkin banyak orangtua-orangtua lain di luar sana yang sibuk mengurusi PIL atau WIL nya, atau sibuk mencari uang yang kemudian mereka gunakan entah untuk apa).
Sebuah perenungan untuk menyadari betapa banyak saya mempunyai teman, kawan, sahabat, yang selalu bersedia untuk saya ganggu hanya untuk sekedar mendengarkan ocehan saya. Sebuah perenungan, betapa setiap keputusan yang telah saya buat di masa lampau mempengaruhi setiap jejak langkah yang sudah saya tinggalkan di belakang saya, bahkan mempengaruhi sampai saat ini saya berada di depan laptop saya dan mengetikkan postingan ini.
Sebuah perenungan, bahwa sampai hari ini saya masih hidup dengan cukup, tinggal di tempat yang layak, makan dan minum yang layak, dan bisa berpakaian dengan sepantasnya. Sebuah perenungan yang menghasilkan banyak nilai baru yang tertanam di kepala saya sampai hari ini.
Sebuah perenungan yang akhirnya membuat saya sungguh-sungguh meyakini bahwa saya bisa membuat kesalahan, bisa berbuat kebodohan, tetapi tidak dengan kebodohan itu membuat hidup saya berakhir. Bahwa hidup saya akan terus berlanjut, dan itu menuntut saya untuk belajar dari kesalahan dan kebodohan yang saya buat.
Sebuah perenungan yang membuat saya berpikir bahwa setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Dan betapa masalah-masalah yang pernah saya hadapi masih belum seberapa beratnya jika dibandingkan dengan masalah-masalah yang dihadapi orang lain. Yang sekaligus membuat saya berpikir bahwa saya harus belajar untuk mengatasinya, belajar untuk menjadi lebih kuat jika nanti masalah yang sama datang kembali sehingga saya lebih siap menghadapinya.
Seseorang pernah mengatakan pada saya, “Yah…kita berada di bawah, untuk mengingatkan kita bagaimana rasanya berada di atas…”. Hmm… kalimat tepatnya mungkin tidak seperti itu, tapi esensi dan makna yang saya dapatkan mungkin seperti kalimat yang saya tuliskan tersebut. Hahaha… banyak orang yang pernah mengatakan hal itu kepada saya, tapi mungkin sebelumnya tidak pernah saya indahkan. Tapi yang jelas, saat itu dia membuat saya memikirkannya, memikirkan esensi dari kata-kata itu dengan sungguh-sungguh, dengan menggunakan akal sehat dan pikiran saya. Menyadari betapa dalam makna yang terkandung di balik kata-kata bijak itu.
Dan sampai hari ini, saya semakin menyadari betapa tidak kekalnya semua hal yang sudah datang pada saya sampai hari ini. Seperti kawan, banyak yang datang dan pergi. Kawan TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja, kawan kenal di jalan, dan sebagainya! Dan ada kenangan yang tersisa di balik semua pertemuan itu, hanya kenangannya saja yang mungkin akan kita ingat, karena tetap saja kembali pada hakikatnya bahwa kawan pun bisa pergi dan meninggalkan kita. Dan kenangan itu pun akan musnah, ketika kita mati.
Mungkin pernah saya berpikir untuk mendapatkan uang sebanyak yang saya mau, atau mungkin kekuasaan yang melebihi kekuatan saya untuk menguasainya. Sungguh akhir-akhir ini saya berpikir bahwa semua itu tidak akan bisa saya bawa ketika saya mati. Sungguh, saat ini saya benar-benar baru bisa berpikir seperti itu!
Hahaha… Dan itulah yang membuat saya akhir-akhir ini mengidolakan Soe Hok Gie. Seorang biasa yang tidak perlu mengangkat senjata untuk membela kebenaran, atau mungkin sampai merebut kekuasaan untuk membuat namanya dikenang banyak orang. “Aku lebih baik mati sebagai Soe Hok Gie, ketimbang S******o.”, pernah saya mengucapkan itu kepada seseorang. Seringkali malah! Dan dia akan menjawab, “Yayayaya… Aku tau!”. Hahaha… parah! Mungkin dia sudah bosan mendengar saya berkata seperti itu.
Yah… Begitulah! Pada akhirnya ini hanyalah sebuah renungan. Renungan dalam pikiran saya, yang saya tuliskan di sini untuk dibagikan kepada kawan-kawan yang membacanya. Renungan yang sebenarnya saya tujukan kepada diri saya sendiri untuk mengingatkan bahwa masih banyak hal di luar sana yang menunggu saya di perjalanan hidup saya.







wah, wah, wah. dalem bener perenungan om suryawan. tp gak usah niru soe hok gie. jd soe ria wan saja.
[Reply]
nice sekali yg satu ini brur!!
[Reply]
halo bro..
sebelumnya met ultah malu ne hehehe..
sorry, ing taen nge-net!
…
postingan ci kali ini bener-2 bikin kilas balik dan menjadi bersyukur..
menjadi tua dan bertumbuh benar-benar proses yang ga enak bro, seringkali empot-2an untuk menyadari begitu banyak ketidakwajaran-2 yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan terjadi,ternyata begitu nyata untuk dijalani hehehe..
tapi, yeah, apapu ntu, we have to go forward.
setubuh? eh, setuju???
maju terus boss!!!
[Reply]
wuiw..
betul itu, kalo kita tidak pernah di bawah, kita tidak akan pernah tau bagaimana nikmatnya berada di atas..
jadi, bukan berati ketika di atas, puas2in diri, tapi do more.., talk more bole juga (asal yg berguna!)..
dan hidup lebih indah dengan rasa syukur yang melimpah..
[Reply]
cieeee jadi Suryawan Si Perenung skarang looo ahahaha… Samai di dunia damai di hati. Amin…n
[Reply]
bos,ente msh di bali..???
kmrn aku ke pandang smabiyan..3 hari….
*ga baca postingan*
[Reply]
help help.. tenggelem nih daku. wkwkwk..
dalam kalipun perenunganny pak sur!
smoga kt makin bijaksana, tidak hanya makin tua. btw kan ada yg tambah umur ni kyknya? makan2 dimana??
[Reply]
Gak ada yang lebih baik memang dari bersyukur.
Bersyukur bikin kita menikmati hidup.
Bikin hidup lebih hidup
*kok ngiklan sechhh…???*
[Reply]
Cuih . . . . .
wkkkkk
gaya pake merenung segala . . .
udah ajeb2 aja dulu hueheuheuheuheuheuehu . . . . . .
[Reply]
hmmm… sepertinya BLi Made Suryawan bakalan jadi ‘the Next Gede Prama’ nih… He…
[Reply]
Baca tulisan ini, saya baru terpikir bahwa saya sudah lama ndak merenung. Selama ini lebih banyak mengkhayal dan bengong. Thanks Dok..
[Reply]
jangan banyak2 merenung bli soer…hehehe
daripada banyak merenung, ajake ke Pekenan Lais Meseluk di pegok sesetan (info lebih jelas, dah tak posting di blog rage) hehehehe…
[Reply]
Kadang-kadang, perlu merenung…, kadang-kadang…
[Reply]
waduh.. banyak2 merenung.. nge-bintang aja bli.. haha
[Reply]
Menarik Bro, ‘jangan lupa bro setiap manusia ada jamannya’, temukanlah ‘jaman’mu Bro.
Trims.
[Reply]
mimih, perlu2 berulang-ulang membacanya puk
[Reply]
[...] dosa, bisa konflik perasaan, sudah pasti SANGAT pribadi. Tapi, suatu hari aku melihat post ini , dan aku membaca perenungan yang [...]
Wuich… ternyata selain meledak2-ledak ada kalanya suryawan bisa bertapa. Jangan kelamaan merenungnya, kesurupan ntar.. eh tu klo bengong ya?!?!…
[Reply]