Berhubung listrik di rumah mati, bikin postingan ini deh! Terima kasih PLN, kau memberiku ide!

Krisis listrik yang terjadi tahun ini sepertinya cukup parah. Selain Jakarta, konsumen-konsumen PLN di banyak wilayah di Indonesia harus bergotong-royong membantu PLN dengan cara ikut merasakan pemadaman bergilir. Sebut saja daerah-daerah seperti Ambon, Sulawesi Barat, Jawa Barat, dan mungkin banyak lagi daerah-daerah lain di Indonesia. Bali sendiri ternyata tidak dapat menggunakan statusnya sebagai daerah tujuan pariwisata utama Indonesia untuk menghindari gotong royong tersebut.
Khusus untuk daerah Jakarta, PLN mengatakan bahwa pemadaman tak dapat dihindari karena adanya gangguan di Gardu Induk Cawang dan Gardu Induk Kembangan. Sedangkan di Bali sendiri, pemadaman bergilir katanya diperlukan sebab PLTG Gilimanuk sedang memasuki masa perawatan. Hmmm… Sekedar mengingatkan saja bahwa di tahun 2008 juga terjadi krisis listrik yang katanya disebabkan oleh cuaca buruk sehingga menyebabkan keterlambatan pasokan batu bara.
Yah… seperti sebelum-sebelumnya lah, masyarakat hanya bisa mengurut dada, mengeluh, atau mungkin memaki PLN lantaran mereka tidak mempunyai pilihan. Dominasi PLN dalam pasar terlalu kuat, kalau tidak bisa dibilang bahwa realitanya merekalah satu-satunya produsen yang langsung menjual produk kepada konsumen akhir.
Di saat-saat seperti ini juga tidak jarang kita dengar himbauan-himbauan untuk menghemat penggunaan listrik. Hmm.. saya sependapat, bahwa penghematan energi harus senantiasa kita coba lakukan sebab bumi lagi memanas dengan cara yang seksama dan dalam tempo yang mudah-mudahan tidak sesingkat-singkatnya. Bukan hanya listrik saja, semua jenis energi kalo perlu. Tapi saya pikir kita perlu solusi yang lebih kongkrit, sebab yang namanya krisis tidak bisa dijawab hanya dengan solusi jangka pendek seperti itu. Kalo istilahnya dosen saya, diperlukan perencanaan yang strategis! Dan saya yakin bahwa perencaan strategis tersebut sudah dibuat, cuman ga tau apakah sudah dilaksanakan atau tidak.
Dan sudah barang tentu, banyak solusi yang sering diusulkan. Mulai dari pembangunan proyek pembangkit listrik 10.000 megawatt (proyek gede euy!), mengganti dirut PLN (katanya!), atau mengubah struktur pasar dengan menghentikan dominasi (kalo tidak bisa dibilang monopoli) PLN. Hmm… saya sendiri sebenarnya lebih setuju dengan usul yang ketiga. Alasan saya cuman satu, bahwa dengan memberi kesempatan kepada swasta untuk ikut melayani pasar maka akan tercipta persaingan yang mengarah pada kompetisi dan munculnya inovasi. Dengan adanya lebih banyak pemain, konsumen pun akan mendapatkan kesempatan untuk memilih pelayanan yang lebih menguntungkan bagi dirinya.
Walaupun demikian, opsi ini bukannya tanpa cacat. Bahaya paling besar tentunya jika sepenuhnya mekanisme pasar diberlakukan bagi terjadinya transaksi akan merugikan konsumen yang tidak mampu. Pemilihan pasar oleh produsen untuk memiliki pasar-pasar yang menguntungkan saja, akan menimbulkan ketidakadilan bagi masyarakat di daerah-daerah yang tidak menguntungkan (sebut saja Papua dengan medannya yang bergunung-gunung). Singkatnya pemerintah selaku wasit mesti menjadi wasit yang adil baik bagi pelaku usahanya, maupun dalam hal melindungi hak-hak konsumennya.
Walah, kok jadi serius! Hahaha… tapi niatnya emang serius sih saya mengusulkan agar dominasi PLN di pasar sebaiknya dihentikan saja. Mungkin kongkritnya PLN tetap milik pemerintah, hanya saja produsen lain diberikan kesempatan untuk memasuki pasar. Tidak hanya dalam penyediaan pembangkit, tetapi juga pada distribusi (dari hulu ke hilir deh pokoknya).
Nah, gitu pendapat saya… Jadi, kalo menurut teman-teman gimana?
Note:
- Saya nemu beberapa tulisan bagus mengenai hal ini di sini dan di sini.
- Gambar diambil dari http://foto.detik.com/images/content/2009/10/28/157/listrik1.jpg






PLN = perusahaan Lilin nasional
[Reply]
namanya juga PLN: Pemadaman Listrik Negara
[Reply]
Kalau saya ndak terlalu mempermasalahkan ada pemadaman listrik, yang penting ada pemberitahuan sebelumnya. Soalnya, kadang-kadang pas listrik mati, kita jadi berbaur dengan anggota keluarga, para tetangga, dsb. Jadi, ada sisi positifnya juga. Hehe!
Tapi kalau sering-sering, bete juga rasanya! Hihi..
[Reply]
imsuryawan Reply:
December 7th, 2009 at 2:10 am
hahaha… itu lah bro, karena terlalu seringnya itu yang bikin bete…
[Reply]
Aku sih asyik-asyik aja.
karena daerah rumahku
. Tapi menangapi usulan ketiga, seandainya ada swasta yang ikut bermain di listrik…….. aku cuma ngebayangin bagaimana semrawutnya langit jalanan dengan kabel yang saling-silang
bisa2 anakku gak bisa main layang-layang lagi.
mulai awal pemadaman yang katanya pemeliharaan pembangkit di gilimanuk sampe sekaranggak pernah merasakan senangnya menyalakan lilin[Reply]
imsuryawan Reply:
December 8th, 2009 at 2:25 pm
wah2.. beruntung banget ga kena pemadaman pak!
hehehe.. walah, kalo cuman masalah kabel sih, saya pikir insinyur2 kita pasti bisa bikin perencanaan yang bagus biar ga bersliweran (asal serius dan diberi kesempatan aja sih)
[Reply]
bwehehehhe..
adi jeg berubah tampilan blog ne jani One?
…
itung2, gara PLN memadamkan lampu kan lumayan ngae masyarakat secara ga langsung untuk hemat energi dan go green boss
nah, diliat dari sudut positipnya gen, meskipun kerugian yang dirasakan lebih banyak hehehehehe..
[Reply]
imsuryawan Reply:
December 8th, 2009 at 2:27 pm
hehehe… suasana baru bro! med jak ane putih2… ane selem kapah2
cuman kan go green ga mesti dengan melakukan pemadaman…
…
wah2… kalo dikaitkan dengan go green, setuju banget bro!
[Reply]
Hmmm..ada benarnya konsumen sperti kita hanya bisa mengurut dada dan menerima berbagai penjelasan yang njlimet dari pihak PLN walaupun ada beberapa diantara saudara2 kita yang nggak terima dengan keadaan ini lalu kemudian berdemo [sangat bisa dimengerti].
Yah semoga pemerintah sekarng lebih tanggap dan sensitif dengan hal-hal yang merugikan masyarakat seperti masalah listrik ini, bukan hanya sensi pada berita-berita yang bermuatan politk dan kekuasaan saja.
Btw,Selamat tahun baru 2010,Semangat baru, postingan baru dan sukses selalu
[Reply]
Sumber ide tulisan itu ada di sekitar kita, bahkan dari hal-hal kecil yang sederhana
yang sulit itu adalah menyajikannya dalam rangkaian kalimat yang bermanfaat buat publik
[Reply]
Listrik swasta kan uda lama ada…. pembangkit2 swasta uda banyak bertebaran di sumatra dan jawa. Dari pembangkit listrik swasta PLN distribusi beli listrik tersebut dengan harga swasta dan di jual ke masyarakat dengan harga yang ditetapkan pemerintah, jadi di sini aja PLN uda rugi.
Kalo swasta melakukan produksi dan penjualan, maka kabel akan berseliweran di mana-mana, dan harga listrik akan lebih mahal, akibatnya hanya golongan atas aja yang bisa langganan, dan itupun tidak banyak, lalu kalo pasarnya dikit harganya bakalan tambah mahal lagi karena ga nutup buat bikin jaringan, apa lagi kalo daerah kecil.
[Reply]